Minggu, 15 Juni 2008

Pemasaran Universitas


“There is only one subject matter for education,
and that is Life in all its manivestations (Whitchead, 1932)”




1. Pendahuluan

Permintaan jasa pendidikan tinggi saat ini semakin meningkat. Hal ini dikarenakan kebutuhan dan keinginan masyarakat akan pendidikan tinggi semakin bertambah. Selain itu, pergeseran masyarakat yang berorientasi untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri semakin menurun jumlahnya, setelah menghadapi pasca krisis ekonomi di era tahun 1998.

Situasi tersebut berpengaruh terhadap keberadaan lembaga pendidikan tinggi/perguruan tinggi di Indonesia. Diprediksi peminat untuk mengikuti pendidikan tinggi akan semakin bertambah, dengan asumsi mereka yang berencana studi ke luar negeri memutuskan beralih untuk studi di dalam negeri. Konsekuensi logik dari fenomena ini adalah beberapa perguruan tinggi akan mengalami peningkatan permintaan dari masyarakat untuk masuk ke program studi pilihannya.

Situasi ekonomi yang tidak menentu dewasa ini, tidak dapat dijadikan barometer bagi masyarakat dalam memilih universitas untuk melanjutkan pendidikan tingginya. Faktor penentu lainnya dalam pemilihan universitas antara lain : fisiologi, promosi, sumbangan/ biaya kuliah, dan tempat atau lokasi perguruan tinggi.

Favoritisme beberapa program studi tertentu juga menjadi faktor pendorong terjadinya permintaan masyarakat pada perguruan tinggi tertentu. Jika suatu program studi memiliki tingkat permintaan yang relatif tinggi maka program studi tersebut dipastikan memiliki daya tawar yang kuat terhadap peminatnya. dan begitu pula sebaliknya.

Program studi dengan tingkat permintaan yang relatif rendah pada umumnya akan mengalami hambatan dalam pengembangannya di masa mendatang. Rendahnya peminat pada suatu program studi tertentu dikarenakan beberapa faktor antara lain : ketidakjelasan daya tawar atau manfaat atas ilmu pengetahuan yang diperolehnya serta keraguan daya serap para lulusannya di pasar tenaga kerja.

Faktor lain dari kurangnya para peminat suatu program studi tertentu adalah rendahnya citra atau reputasi perguruan tinggi dan staf dosen atau tenaga pengajarnya. Citra atau reputasi lembaga pendidikan tinggi adalah jam terbang perguruan tinggi dalam mengelola organisasinya sehingga mampu membangun suatu citra/reputasi yang positif. Kemudian, citra/reputasi positif tersebut perlu pula didukung oleh staf dosen atau tenaga pengajar yang handal dan kompeten, baik dalam bidang pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat (Tri Dharma Perguruan Tinggi).

Saat ini situasi dan kondisi universitas di seluruh nusantara tengah menghadapi dilema persaingan global. Khususnya bagi perguruan tinggi negeri (PTN) yang belum memiliki status BHMN, dihadapkan pada tuntutan untuk mampu merumuskan dan melaksanakan program transisional (transitional program) dalam rangka menuju kemandiriannya. Dengan kata lain PTN yang awalnya berstatus murni negeri, kemudian berubah berstatus Badan Layanan Umum (BLU) dan akhirnya berstatus BHMN. Tahapan perubahan status kelembagaan tersebut merupakan satu langkah ke depan untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing universitas.

Langkah strategik lainnya, untuk meningkatkan daya saing universitas, adalah dengan merumuskan dan menerapkan pemasaran universitas.

2. Pemahaman Konseptual

2.1. Definisi Pemasaran Universitas


Konsep pemasaran yang sering diadopsi berasal dari American Marketing Association (Kotler & Keller, 2006) yang mendefinisikannya sbb: Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan sekumpulan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai kepada pelanggan serta mengelola hubungan dengan pelanggan yang kesemuanya dapat memberikan manfaat bagi organisasi dan para stakeholdernya.

Selaras dengan makna tersebut di atas, uraian dalam makalah ini berusaha mengadopsi definisi tersebut dan disesuaikan pada universitas. Dengan demikian, pemasaran universitas adalah suatu fungsi yang perlu dimiliki universitas dalam menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai (informasi dan ilmu pengetahuan) kepada peserta didik/mahasiswa dan organisasi (pasar sasaran) serta mengelola hubungan dengan mereka yang kesemuanya dapat menghasilkan manfaat bagi universitas dan para stakeholdernya.

2.2. Konsep nilai

Konsep ’nilai’ dalam aktivitas pemasaran universitas adalah kemampuan universitas untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan ’manfaat terhantar yang maksimal’ kepada peserta didik/mahasiswa dan organisasi (pasar sasaran) dan hal ini dimungkinkan jika diikuti dengan ’pengorbanan atau biaya yang se-efisien mungkin’. Tujuan penyampaian manfaat yang maksimal atau memiliki nilai superioritas ini adalah agar tercipta ’kepuasan’ atau ‘loyalitas’ bagi peserta didik/mahasiswa dan organisasi (pasar sasaran) .

Misalnya, yang berkenaan dengan tawaran jasa penelitian bagi Pemerintah Kota untuk melakukan Studi Potensi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka unit LPPM yang berada di bawah universitas perlu menyelenggarakan penelitian dengan hasil temuan yang memberikan manfaat/kegunaan yang maksimal bagi Pemerintah Kota; dan bila hubungan yang saling menguntungkan serta memuaskan ini terus terjalin dan berkesinambungan akan melahirkan kesetiaan pemerintah kota untuk terus berhubungan dengan universitas tersebut.


3. Stakeholder Universitas

Berdasarkan ilustrasi diatas, universitas sebenarnya tidak hanya memiliki pasar sasaran berupa peserta didik/mahasiswa dan organisasi pemerintah kota sebagai pengguna jasanya, namun pula dapat berhadapan dengan sejumlah stakeholder lainnya. Mereka memiliki harapan, tuntutan, serta persepsi yang beragam terhadap tawaran universitas sebagai suatu ‘agent of development’ atau institusi yang dapat membawa perubahan bagi lingkungannya. Untuk itu, universitas memiliki tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang besar dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan para stakeholdernya.

Menurut Kotler dan Fox (1995), para stakeholder universitas terdiri dari antara lain : peserta didik/mahasiswa baik yang aktual maupun potensial, badan akreditasi, orang tua/wali, dosen, peneliti, karyawan serta staf pimpinan, dewan penyantun, universitas sejenis, pemasok, organisasi bisnis dan publik, yayasan, alumni, masyarakat setempat dan media masa.

Memahami kebutuhan dan keinginan para stakeholder universitas merupakan suatu kemampuan tersendiri. Dalam hal ini universitas perlu memiliki skala prioritas dalam memenuhi pilihan dan tuntutan mereka. Hal tersebut dikarenakan, pertama, para stakeholder memiliki harapan dan persepsi yang berbeda atas tawaran universitas dalam mendukung keberadaannya.

Kedua, pemposisian universitas di benak para stakeholder sebagai lembaga pendidikan tinggi perlu diidentifikasi dan bahkan dipertegas, apakah universitas mampu memberikan tawaran atau nilai superior atau minimal nilai paritas kepada para stakeholdernya.

Terakhir, universitas perlu pula memiliki strategic positioning dalam mencapai tujuannya sebagai ‘agent of development’ bagi masyarakat setempat, para pelaku bisnis, pemerintah dan publik lainnya, serta para alumni agar tercipta reputasi/citra positif terhadap universitas tersebut.

Strategic positioning adalah suatu unique selling proposition (USP) atau proposisi nilai jual khas universitas yang dikomunikasikan secara berulang-ulang kepada pasar sasarannya agar tercipta reputasi/citra positif masyarakat terhadap universitas tersebut. USP merupakan pula sejumlah identitas atau ciri-ciri pengenal tertentu suatu universitas terhadap para stakeholdernya yang beragam. Ilustrasi USP bagi UNPAD misalnya berupa persyaratan kelulusan bagi para mahasiswanya yang harus memiliki skor TOEFL institusional sebesar 520, dan tersedianya Career Development Center dalam memfasilitasi para mahasiswa dan alumninya.

4. Pemasaran Jasa Pendidikan Tinggi Melalui Universitas

Untuk mencapai visi dan misinya, universitas perlu menerapkan tiga aktivitas pemasaran jasa, yakni : Pemasaran Internal, Pemasaran Eksternal dan Pemasaran Interaktif.

Pemasaran Internal adalah keseluruhan aktivitas universitas yang berada di tingkat Rektorat, Fakultas, Jurusan dan/atau Departemen dalam mensosialisasikan berbagai program studi beserta kurikulum, program penelitian dan pengabdian pada masyarakat, program remunerasi dan jenjang kepangkatan yang ditawarkan kepada sumberdaya manusia (SDM) universitas, yang terdiri dari :

- Tenaga Akademik, yakni :
- Dosen Tetap
- Dosen Tidak Tetap
- Dosen Tamu
- Peneliti

- Tenaga Administratif, yakni :
- Manajemen/Pimpinan
- Karyawan

Pemasaran eksternal adalah keseluruhan aktivitas universitas yang berada di tingkat Rektorat, Fakultas, Jurusan dan/atau Departemen dalam menawarkan berbagai program studi beserta kurikulum, biaya/sumbangan kuliah, program penelitian dan pengabdian pada masyarakat kepada para stakeholder eksternalnya, yang terdiri dari :

- Peserta Didik/Mahasiswa (aktual maupun potensial), baik yang berasal lulusan SLTA/sederajat, diploma, spesialis, strata 1, dan strata2.
- Organisasi Bisnis dan Publik, termasuk Pemerintah Pusat dan Daerah.

Pemasaran interaktif adalah keseluruhan aktivitas universitas, khususnya yang berada di tingkat Jurusan dan/atau Departemen dan LPPM dalam mana para dosen dan tenaga peneliti memberikan jasa pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat kepada para peserta didik/ mahasiswa dan organisasi baik bisnis maupun publik.

Ketiga aktivitas pemasaran jasa pendidikan (Tri Dharma Perguruan Tinggi) tersebut dilakukan dalam rangka pembentukan identitas (pemasaran eksternal), pembentukan reputasi/citra (pemasaran internal) dan pembentukan keterpaduan identitas dan reputasi/citra (pemasaran interaktif).

5. Bauran Pemasaran Jasa

Untuk melakukan pembentukan identitas serta terciptanya reputasi/citra universitas di kalangan sumberdaya manusia (SDM)-nya dan stakeholder eksternal, perlu dilakukan proses pemposisian kekhasan universitas melalui identitas terpilih. Aktivitas ini disebut sebagai positioning.

Positioning universitas dapat dilakukan melalui sejumlah bauran pemasaran jasa pendidikan tinggi, yang terdiri dari 7P : product, price, place, promotion, people, process dan physical evidence.
5.1. Product

Product adalah sejumlah tawaran universitas kepada pasar sasaran dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka sehingga tercipta kepuasan dan hubungan yang berkesinambungan.

Bagi universitas, suatu produk adalah berbagai program studi yang ditawarkan Jurusan dan/atau Departemen baik yang bersifat komplementer maupun suplementer. Komponen program studi terdiri dari antara lain : kurikulum, silabi, SAP, dan sejumlah informasi lainnya yang ditawarkan pada pasar sasarannya. Sebagai misal, setiap program studi dituntut untuk mampu mengemas program tersebut agar menarik minat pasar sasaran dan mampu menghasilkan lulusan/alumni yang dapat diserap oleh para pelaku bisnis dan publik dalam masyarakat.

Ilustrasi suatu produk bagi universitas tidak hanya program studi saja, namun dapat pula berupa program penelitian (academic and applied research) serta program pengabdian pada masyarakat (pelatihan dan konsultasi). Kedua tawaran tersebut perlu dikelola oleh unit kerja tersendiri di lingkungan universitas yang bernama Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM).

5.2. Price

Price yaitu sejumlah uang yang harus dipikul para peminta jasa pendidikan tinggi atau dengan kata lain tarif atas tawaran yang dibeli oleh pasar sasaran. Sebagai misal, uang kuliah semesteran, biaya praktikum, dan biaya lainnya. Keputusan untuk menetapkan tarif atas jasa pendidikan yang ditawarkan termasuk didalamnya sejumlah persyaratan pembayaran dan diskriminasi tarif atau biaya/sumbangan yang harus ditanggung pasar sasaran.

5.3. Place

Place yaitu proses penghantaran jasa pendidikan tinggi melalui penyediaan lokasi fisik yang mudah diakses pasar sasaran. Sebagai misal, lokasi kampus untuk proses perkuliahan, dan juga lokasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat yang bersifat strategik.

Aktivitas dalam menawarkan program studi oleh Fakultas/Jurusan dan/atau Departemen, saat ini tidak hanya dilaksanakan di lokasi kampus utama, namun dapat pula dilakukan di lokasi lainnya yang masih menjadi lingkungan wilayah universitas, baik dalam cakupan antar kota maupun antar kabupaten.

5.4. Promotion

Promotion yaitu aktivitas untuk mengkomunikasikan jasa pendidikan tinggi yang ditawarkan universitas dalam rangka membangun persepsi, afeksi dan keputusan program studi yang dipilihnya. Aktivitas promosi yang dilakukan universitas perlu mengacu pada praktek promosi yang dilakukan organisasi bisnis. Misalnya, penggunaan program periklanan melalui media cetak untuk mempromosikan program studi yang ditawarkan universitas, dan penggunaan program public relation (PR) melalui media masa dalam rangka menjalin hubungan masyarakat.

Untuk mensukseskan program promosi, perlu diperhatikan lima keputusan promosi (5M), yaitu Mission (tujuan/sasaran promosi), Media (pilihan media yang digunakan), Message (penggunaan pesan dalam membangun reputasi/citra dan identitas universitas), Money (besaran anggaran untuk melakukan promosi) dan Mix (bauran alat-alat promosi yang digunakan).

5.5. People

People yaitu sumberdaya manusia (SDM) yang menghantarkan jasa pendidikan tinggi pada pasar sasarannya, antara lain terdiri tenaga dosen dan peneliti.
SDM universitas memiliki peran penting, terutama dalam melaksanakan aktivitas pemasaran internal dan interaktif.

5.6. Process

Process yaitu sejumlah aktivitas operasi atau pelayanan universitas kepada seluruh stakeholder universitas, baik internal maupun eksternal Sebagai misal, proses perkuliahan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. yang harus mampu dituangkan dalam suatu jadwal yang komunikatif dan efektif seperti :

- Jadwal Perkuliahan
- Jadwal Penelitian
- Jadwal Pengabdian pada Masyarakat
- Jadwal Laboratorium
- Jadwal Pelayanan Administratif, dan
- Jadwal Perpustakaan

5.7. Physical Evidence


Physical evidence yaitu sejumlah sarana dan prasarana yang dimiliki universitas dalam menjalankan aktivitasnya sehingga berbagai tawaran yang ditujukan pada pasar sasarannya dapat diterima secara efektif dan efisien., yakni antara lain meliputi :

- Fasilitas Parkir
- Pertamanan
- Fasilitas Peribadatan
- Fasilitas Kemahasiswaan
- Fasilitas Kesehatan
- Fasilitas Wireless Internet/Hotspot
- Fasilitas Olahraga dan Kesenian
- Fasilitas Pemondokan
- Fasilitas Praktek Kerja Lapangan, dan
- Fasilitas Dual/Sandwich Study

6. Kinerja Pemasaran Universitas

6.1. Popularitas

Kinerja pemasaran universitas biasanya diukur dari popularitas universitas berdasarkan pilihan para stakeholder, khususnya para pengguna lulusan/alumni. Salah satu stakeholder yang melakukan pengukuran popularitas universitas adalah kalangan media masa. Sebagai misal, Majalah Tempo dan Majalah SWA pernah melakukan perankingan popularitas universitas di Indonesia berdasarkan preferensi orang tua dan pengguna lulusan/alumni. Di Amerika Serikat, majalah Business Week dan Majalah Forbes secara rutin mempublikasikan ranking universitas.

Hasil penelitian Domino et al. (2006) menunjukan bahwa faktor biaya perkuliahan dan perolehan beasiswa mempengaruhi masyarakat dalam memilih suatu perguruan tinggi. Soutar dan Turner (2002) mengatakan bahwa program studi, reputasi akademik, prospek pekerjaan dan kualitas dosen merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan suatu perguruan tinggi. Faktor lainnya adalah ketersediaan fasilitas fisik yang diperlukan mahasiswa selama mengikuti perkuliahan (Joseph & Joseph, 2002).
6.2. Akreditasi

Diknas disamping bertindak selaku administrator pendidikan nasional juga berfungsi selaku badan akreditasi atas kinerja program studi yang tersedia di universitas. Adapun berbagai indikator yang digunakan sebagai alat ukur dalam mengakreditasi program studi adalah :

- Standar Isi (Kurikulum)
- Standar Proses (Proses Belajar Mengajar /PBM)
- Standar Penilaian Pendidikan
- Standar Kompetensi Lulusan
- Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (SDM)
o Tenaga Pendidik (dosen)
o Tenaga Kependidikan (tenaga pendukung/ administratif)
- Standar Sarana dan Prasarana
o Pendayagunaan Prasarana
o Ketersediaan Sarana
- Standar Pengelolaan
o Organisasi Penyelenggaraan (struktur organisasi)
o Manajemen/Pengelolaan
o Pedoman Operasional Penyelenggaraan
o Standar Pembiayaan

Nilai akreditasi adalah satu indikator penting yang dapat dipasarkan universitas untuk meningkatkan popularitas program studi yang dimiliki dan ditawarkannya. Selain itu, nilai akreditasi dapat digunakan pula sebagai identitas suatu program studi dalam usaha membangun pemposisiannya di benak peserta didik/mahasiswa, dan organisasi bisnis dan publik sebagai pasar sasarannya.

7. Model Komprehensif Pemasaran Universitas

Pemasaran jasa pendidikan tinggi adalah suatu aktivitas yang perlu dimiliki oleh universitas dalam memasarkan berbagai program studi, program penelitian dan konsultasi serta program pengabdian pada masyarakat kepada pasar sasarannya. Namun dalam melakukan pemasaran tersebut, universitas perlu memperhatikan lingkungan yang dihadapinya antara lain :

Pertama adalah Lingkungan Industri.
Universitas adalah bagian daripada pelaku industri jasa pendidikan tinggi yang tidak terlepas dari iklim persaingan. Untuk hal itu, universitas perlu memiliki keunggulan bersaing dalam berbagai aspek, antara lain :

- Ketersediaan Sarana dan Prasarana,
- Pengembangan dan Penerapan IPTEK,
- Jejaring dan Kerjasama,
- Program Beasiswa,
- Program Studi dan Kurikulum,
- Profil Manajemen dan Karyawan,
- Profil Dosen, serta Peneliti,
- Profil Mahasiswa dan Alumni

Bila universitas memiliki keunggulan saing yang khas dan spesifik (distinctive competitive advantage) dari salah satu aspek tersebut diatas, maka universitas memiliki peluang untuk mendayagunakan keunggulan saing tersebut dalam berbagai kegiatan promosinya. Misalnya :

- Markplank Institute di Jerman dikenal sebagai tempat kelahiran Albert Einstein selaku
peneliti kaliber dunia.
- University of New South Wales di Sydney Australia secara rutin mengadakan Public Lecture
yang berjudul CEO Talk, dimana para pembicara pada forum tersebut adalah para
alumninya selaku CEO di berbagai Multinational Company (MNC) atau Transnational
Company (TNC).
- Unpad menyelenggarakan Public Lecture dalam rangka menghormati Prof. Dr. Mochtar
Kusumaatmadja selaku mantan dosen/pimpinan UNPAD, yang pernah dipercaya memangku
jabatan Menteri Luar Negeri RI.

Kedua adalah Lingkungan Pasar Jasa Pendidikan Tinggi.
Universitas tidak hanya menawarkan jasa pendidikan tinggi pada perserta didik/mahasiswa yang berasal dari lulusan SLTA/sederajat, namun juga yang berasal dari lulusan diploma, spesialis, strata 1, dan strata2.

Tidak ada komentar: